Batik Peranakan, Bukti Kerukunan Budaya Indonesia-Tionghoa - Radar Malang Online

KOTA MALANG- Akulturasi budaya Tionghoa dan Melayu ternyata dapat kita temui pada batik peranakan (perkawinan).

Jenis batik ini sebenarnya telah ada sejak tahun 1800, akan tetapi budidayanya di Indonesia masih minim dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Salah satu penggiat batik peranakan yang mengembangkan batik ini dalam bentuk alas kaki indah adalah pemilik Selop Baba Handmade, Regina Olivia. Ia mengatakan bahwa kain cantik batik peranakan merupakan warisan baba dan nyonya dari tionghoa yang datang ke kawasan melayu dan meleburkan budayanya dalam kain batik sejak jaman Belanda.

“Bedanya konsep batik melayu cenderung memakai warna-warna cokelat yang tegas. Sedangkan batik pernakan memggunakan warna tabrak lari. Yaitu warna cerah seperti pink, kuning, hijau,” jelasnya pada radarmalang.id.

Lebih detail Regina mengatakan bahwa selain warna, pemolihan motif batik peranakan juga berbeda dengan batik lokal. Peranakan cenderung menggunakan motif-motif seperti Lockan, burung Hong Lin, Liong, dan tulisan keberuntungan.

Hari ini (3/4) Anda dapat melihat pameran batik peranakan bertajuk The Beauty of Peranakan Style di Shanghai Noon Boutiqe Hotel Malang. Acara yang digagas untuk memperingati hari jadi Kota Malang ke-105 ini berlangsung hingga 7 April mendatang.

Pewarta: Rida Ayu
Foto : Istimewa
Penyunting : Fia